Sercecah Cahaya Untuk Mentari


Beberapa hari setelah tragedi besar. Bayi perempuan yang merupakan korban selamat dalam tragedi, sekarang berada di panti asuhan. Semenjak tragedi itu media selalu memberitakannya. Seiring waktu hal itu beransur-ansur menghilang & bayi perempuan itu tidak dimuat dalam berita. Seakan-akan bayi perempuan itu tidak mempunyai sangkut pautnya dengan tragedi besar yang telah terjadi. Sampai akhirnya bayi perempuan itu menjalani kehidupannya di panti asuhan yang menampungnya. Panti asuhan memberikan nama Mentari kepada bayi perempuan itu.

Mentari terus berada di panti asuhan sampai menginjak umur 14 tahun. Entah kenapa tidak ada orang yang mau mengangkatnya sebagai bagian dalam keluarganya. Padahal dia adalah gadis yang cantik, baik dan mandiri. Sangat suka membantu ibu panti untuk mengurus anak-anak yang lain.

Suatu ketika, panti asuhan kedatangan tamu seorang remaja laki-laki yang berpenampilan rapi. Remaja itu berpapasan dengan Mentari.
“Dik, ibu pemilik panti ada?”, sapa remaja laki-laki itu.
“Ma’af, kakak siapa ya?”, Mentari mencoba menanyakan balik.
“Kakak baru ke panti ini. Nama kakak Hitam, bisa kakak bertemu ibu pemilik panti dik?”, jelas remaja laki-laki yang bernama Hitam.
“Baik, kak Hitam akan segera saya sampaikan!”, respon dari Mentari dan segera pergi menemui ibu panti.

Hitam kemudian berbicara empat mata dengan ibu panti di ruang tamu. Hitam menyampaikan maksudnya dengan ibu panti.
“Maksud kedatangan saya ke sini ingin memberikan sebagian penghasilan pertama dari perusahaan yang baru saya dirikan, sekaligus mengangkat seorang anak panti sebagai adik saya. Di sini saya hanya sebatang kara, jikalah ibu berkenang bantulah saya”, kalimat yang diberikan Hitam kepada ibu panti.

Dalam pembicaraan panjang antara Hitam dan ibu panti, akhirnya menemukan titik temu. Mentari lah yang diinginkan Hitam sebagai adik angkatnya.

Tiba saatnya Mentari harus pamit dengan seluruh penghuni panti. Yang selama ini bersama dengan dia sampai berusia 14 tahun, dan tentulah kepergiannya dihiasi cucur air mata.

18 thoughts on “Sercecah Cahaya Untuk Mentari

  1. kemarin saya ngeliat anak2 panti di dekat rumah saya lagi pada mau jalan2 dengan menyewa beberapa angkot. udah rutin setiap habis waktu shalat jumat mereka jalan2 rame2 (weekend-an kali ya)😀 pemandangan kayak gitu bikin seneng, gemes sekaligus agak2 sedih. walau agak berbeda, tapi saya yakin mereka sama kayak anak2 lain, ada nakalnya, ada gemesinnya, ada baiknya, ada ngerepotinnya…
    saya berdoa semoga anak2 yang gak memiliki orangtua bisa tumbuh jadi orang yang mandiri dan berguna bagi orang banyak.. Amin.

    • AMIN. saya juga sangat menyukai anak kecil. selain mengemesin mereka juga bisa bersikap mandiri. membantu orang tua bahkan merawat orang tuanya yang sedang sakit. mereka jika dididik dari kecilnya untuk mandiri pasti akan menjadi kebiasaan saat besarnya nanti. saat saya menonton beritannya, membuat saya merasa malu sendiri.

Silahkan bicara Sobat ::

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s