Kebetulan


Di lorong kampus dua mahasiswi sedang berjalan bersama. Mereka bernama Tini dan Pena. Tini dan Pena berjalan pelan menuju kelas mereka sambil bicara riang. Tiba-tiba seorang mahasiswa terlihat sedang buru-buru dan menuju ke arah mereka.

“Tin, sebaiknya kita ke pinggir nanti kita di tabrak sama tuh cowok”, ajak Pena kepada Tini.
“Gak, bakalan!. Emangnya dia berani nabrak kita. Aku bakalan marahin dia habis-habisan”, sahut Tini.

Mahasiswa itu benar-benar nabrak si Tini dan Pena hingga jatuh. Pena terluka di bagian kakinya, tanpa berpikir panjang, Tini memarahi mahasiswa itu.

“Hei, mata kamu di mana?, kamu kan lihat kami sedang bejalan dari kejauhan masih saja di tabrak. Tangggung jawab, temanku Pena terluka”, Ucap Tini kepada Mahasiswa itu.
“Kamu juga lihatkan aku sedang berlari terburu-buru!, kenapa tidak menghindar”.
‘Sialan nih cowok, sudah di nyatakn bersalah malah balik marahi aku’, kata Tini di dalam hati dengan kesal.
“Tidak apa-apa Tini. Ini Cuma luka kecil kok…”, kata Pena dengan halus.

Mahasiswa itu langsung angkat bicara, “Tidak apa-apa bagaimana?, kamu terluka sampai berdarah begitu, bagaimana jika tetanus, kamu sakit lalu mati dan hantui aku seumur hidup. Aku juga yang repot. Ini kebetulan aku bawa obat P3K. Obatin sendiri. Ehm Terlihat kamu amat marah sekali Tini. Perkenalkan namaku Tiko, entar jam 12 siang aku ada di kantin. Temui aku di sana jika pengen lanjutin marah-marahnya. Aku amat sibuk sekarang. Pena maaf. Dah semuanya aku kabur dulu”.
Mahasiswa itu berlari meninggalkan Tini dan Pena. Tini sangat kesal belum sempat dia bicara dengan Tiko, Tiko sudah duluan kabur.

Setelah selesai mengobati Pena, Tini mengembalikan obat P3K ke ruang kesehatan kampus. Mereka berdua lalu mengikuti kegiatan kuliah. Kemudian makan di kantin. Di kantin terlihat Tini sedang menunggu seseorang yang tidak lain adalah Tiko.
Terdengar suara mahasiswa lain, “Hai, Tiko ngapain kamu sembunyi-sembunyi kayak gitu”.
Tini langsung nyamperin Tiko.
“Mari sini Tiko. Duduk bersama kami!”, sapa Tini sambil menarik kerah bajunya Tiko.
Mereka pun duduk bertiga bersama di kantin.
“Kebetulan aku gak kebagian kursi buat makan walaupun masih ada dua kursi kosong di pojokan sana. Makasih ya”, ucap Tiko sambil gemetaran.
Tini dan Pena Cuma diam.
“Aku baru gajihan tiga minggu yang lalu, jadi untuk kali ini aku yang teraktir”, lanjut Tiko.
Tini dan Pena masih tetap diam.
“Cie Tiko sekarang udah tidak takut lagi sama cewe cantik. Gak tanggung-tanggung sekali dua dideketin”, teriak teman Tiko.
“Makasih pujiannya teman”, ucap Tiko.

Mereka lalu makan bersama dengan suasana kaku. Karena satu dengan yang lainnya tidak bicara. Selesai makan Tiko langsung siap-siap buat cabut.
“Pelayan!, kemari aku mau bayar”, teriak Tiko.
“Kamu kira ini restoran, cepat ke sini”, teriak ibu kantin.
“Ee, ibu kantin manggil aku kayanya. Sorry bro aku cabut dulu ya!”, kata Tiko kepada Tini dan Pena.
“Kamu mau ke mana. Tetap duduk di sini. Biar aku yang ke sana. Pena awasi Tiko”, kata Tini sambil narik tangannya Tiko dan menyuruhnya duduk kembali.

Tini pun pergi ke tempat ibu kantin.
“Pena bagaimana lukamu?”, sapa Tiko kepada Pena.
“Sekarang udah mendingan”, jawab Pena.
“Makasih udah mau bicara dengan ku!, aku minta maaf atas kejadian pagi tadi, sampaikan juga sama temanmu yang mengerikan di sana. Aku harus pergi kebetulan ada janji sama pihak rumah sakit nanti malam. Kotak ini buat kalian”, kata Tiko dengan pelan sambil memberikan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya.
“Apaan nih?, kotak P3K lagi…”, kata Pena.
“Kayanya sejenis tapi ini bukan kotak P3K Pen, lihat saja sendiri di dalam kotaknya”, jawab Tiko.
Saat Pena melihat isi kotak kecil itu Tiko langsung kabur.
“Hei Tiko kamu mau ke mana”, teriak Tini dari kejauhan.
“Kamu apa-apaan sih, jagain dia saja gak bisa”, kata Tini kepada sahabatnya Pena.
“Mana ku tahu dia bakalan kabur!”.

Hari itu juga Tini dan Pena menuju ke alamat yang tertulis di selembar kertas kecil yang mereka ambil dari dalam kotak yang di berikan Tiko. Akhirnya mereka sampai di muka rumah mewah dan besar. Seorang pemuda datang menghampiri Tini dan Pena.
“Aku sahabatnya Tiko. Kalian pasti Tini dan Pena teman kampusnya Tiko. Tiko tadi bilang akan kedatangan kalian. Aku terkejut yang dia katakan benar karena Tiko selama ini tidak pernah mempunyai teman di kampusnya apalagi cewe cantik seperti kalian”, sapa pemuda itu.
“Jangan banyak bicara, kami di sini Cuma…”, belum sempat Tini selesai bicara pemuda itu langsung memotong pembicaraan.
“Baik langsung saja, karena dia tidak mempunyai siapa-siapa, dia berikan rumah mewah itu kepada kalian. Sesuai wasiatnya sebelum dia meninggal karena kecelakaan malam tadi. Moga bermanfaat”, kata pemuda itu sambil memberikan surat tanah dan kunci rumah itu lalu pergi.
“…”, Tini dan Pena Cuma bisa diam terpaku. Mereka bagaikan kejatuhan duren lalu ke sambar petir di tempat. To Be Continue

Jika sobat ingin baca ceritanya dengan mudah bisa sobat download Di sini

3 thoughts on “Kebetulan

  1. Ping balik: Rumah Yang Baik Hati & Tidak Sombong | Jayputra's Blog

Silahkan bicara Sobat ::

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s