Rumah Yang Baik Hati & Tidak Sombong


Cerita satu bisa di baca Di sini

cover cerita
Cerita Selengkapnya Bisa D i Lihat DI SINI.

Cerita Dua
Tini dan Pena mendapatkan rumah mewah dari seorang yang tidak mereka kenal sebelumnya. Di tambah orang yang menyampaikan wasiat mengatakan bahwa Tiko si pemilik rumah mengalami kecelakaan malam tadi. Tetapi Tini dan Pena justru baru mengenal Tiko saat siang harinya.
“Bagaimana?, apa kita harus masuk kerumah itu. Jangan-jangan rumah itu Cuma penampakan”, kata Pena.
“Lihat kunci ini, terlihat nyata kan. Bearti rumah itu juga nyata. Sebaiknya kita tunda dulu untuk masuk ke rumah itu. Mari kita kembali ke kosan”, kata Tini.

Mereka pun pulang ke kosan mereka. Di saat malam hari, terdengar suara orang yang ingin membuka pintu. Pena pun membangunkan sahabatnya Tini. Mereka berdua menuju pintu alangkah terkejutnya, mereka saat melihat sesok pria berada di muka pintu. Mereka berdua langsung berteriak, “Setaaaan!”.
“Berisik, ini tamu ibu. Sengaja ibu datangkan di sini untuk menolong kalian. Kalian sudah nunggak uang kos”, kata seorang wanita yang muncul di belakang pria itu dan tidak lain adalah ibu pemilik kosan.
“Hah maksudnya bu!, untuk uang kos. Kami benar-benar gk punya bu. Saya ke rampokan dan Pena tidak lagi mendapatkan kiriman uang dari orang tuanya. Bulan depan, kami bayar deh bu”,kata Tini.
“Ibu tidak mau tau. Kalian harus bayar hari ini juga kalau tidak kalian harus keluar dari kosan ini sekarang juga. Kecuali jika kalian bisa mendapatkan uang hari ini juga. Om ini akan memberikan kalian uang instan jika kalian mau tidur dengannya malam ini”, kata ibu kos.
“Apa?…Kalau gitu kami milih keluar dari kosan ini bu. Makasih. Ayo Pena, ambil barang-barangmu dan kita pergi dari sini”, kata Tini.
Tini dan Pena kemmudian meninggalkan kosan mereka.
“Kalian mau tidur di mana. Mau jadi gelandangan kalian. Sudah di beri kemudahan malah ngeyel”, teriak ibu kos.
Tini dan Pena terus berjalan. Di tengah perjalanan mereka saling bicara.
“Balik saja kita Tini. Mau tidur di mana?, di jalan!. Kita kan mahasiswi. Images kita di kemanain. Cuma tidur bareng om itu malam ini kita bakalan dapat uang. Itukan tidak masalah”, kata Pena.
“Itu masalahnya, kamu itu terlalu polos. Oleh karena itu, kamu tidak boleh jauh-jauh dari aku. Jika tidur bareng biasa sih iya. Tapi ini tidak Pen. Percaya deh dengan ku. Kita gak bakalan tidur di jalan.”, kata Tini.
“Aku tahu maksudmu pasti kamu ingin ngajak ku untuk tidur di rumah penampakan itu. Gak mau. Mending tidur di rumah om-om tadi”, kata Pena.
“Sekali lagi kamu bilang mau tidur di rumah om-om lagi ku jadiin kamu pocong beneran”, teriak Tini.
“Tunggu apa lagi. Mari kita ke rumah besar itu, gak sabaran nih”, kata Pena dengan nada takut.

Mereka pergi ke rumah besar itu. Saat di depan rumah, semua lampu rumah yang mati tiba-tiba menyala.
“Tuh kan, rumah ini angker. Lebih baik…”, kata Pena kemudian di potong Tini.
“Lebih baik apa?, ke rumah om itu”, kata Tini.
“Enggak, kenapa kita tidak tidur di jalan saja”, kata Pena.
“Kamu sendiri kan yang ngatakan. Images kita bakalan hancur sebagai mahasiswi jika tidur di jalan. Kini kita punya rumah, kenapa tidak kita pake”, kata Tini.
Mereka kaget saat melihat sesok pria dari balik pagar dan membukaan pagar untuk mereka.
“Malam, pasti kalian, non Tini dan non Pena. Perkenalkan saya, pak Ijo penjaga rumah ini. Saya tadi ada keperluan mendadak jadi baru bisa datang ke rumah ini untuk nyalaiin lampunya”, kata pria itu.
“Oh malam juga pak Iko, di kirain siapa, Tuh kan Pena, rumah ini gak angker seperti yang kamu pikir”, kata Tini.
“Kalau gitu saya pamit pulang yah non?’, kata pak Ijo.
“Kenapa tidak menginap di rumah ini saja pak Ijo. Kami senang jika pak mau nemenin kami”, kata Pena.
“Maaf non, sesuai perjanjian dengan tuan Rio saya di perbolehkan pulang saat malam hari. Tidak apa-apa kok non, rumah itu aman dan gak angker”, kata pak Ijo.
“Rio?, bukannya Tiko pak ijo”, kata Tini.
“Tuan Rio itu sahabatnya tuan Tiko non. Saya bekerja juga baru-baru ini dan yang memperkerjakan saya di rumah ini pak Rio setelah tuan Tiko meninggal”, kata pak Ijo.
“Oh, ya udah pak makasih hati-hati di jalan”, kata Tini.
“Eh tunggu dulu pak Ijo, saya minta alamatnya Rio ya, boleh kan?”, kata Pena.
Setelah pak Ijo memberikan alamat Rio, dia pun pergi.

Saat memasuki rumah itu, Tini dan Pena takjub dengan kemegahan isi rumah itu.
“Wah gila, ini rumah atau mesium nih. Kita cek kamarnya Pena ada berapa?, jika banyak kita bisa buat usaha kosan di sini. Hitung-itung bisa jadi biaya kuliah kita nanti’, kata Tini.

Malam itu mereka tidur nyenyak di rumah itu. Pagi harinya Pena dan Tini pergi ke tempatnya Rio, karena dia tidak ada di rumahnya Tini dan Pena mendatangi perusahaan besar tempat Rio bekerja. Di sana mereka berdua bertemu dengan Rio dan tidak lain adalah cowo yang memberikannnya kunci rumah itu berdasarkan wasiat dari Tiko.
Saat memasuki kantor mereka dicegat oleh penjaga keamanan di sana.
“Neng ada perlu apa ya?”, tanya karyawan di sana.
“Kami ada perlu dengan Rio, katakan padanya Tini dan Pena ingin bertemu dengannya”, kata Tini.
“Anda tamunya pak Rio ya, kalau gitu saya minta maaf. Saya kira anda ingin ngelamar kerja. Kebetulan di sini tidak menerima karyawan baru lagi. Silahkan tunggu di ruang tunggu. Mari masuk. Nanti akan ada yag manggilin pak Rio untuk bertemu dengan kalian”, kata karyawan itu.
Mereka pun menunggu di ruang tunggu dan beberapa saat kemudian Rio datang.
“Hai, ada apa? Tin, Pen”, kata Rio.
“Maaf ganggu, kami di sini ingin meminta penjelasan saja, tentang sahabatmu itu!”, kata Tini.
“Kata kamu, Tiko mengalami kecelakaan di saat malam hari tapi kami ketemu dia untuk pertama kalinya saat siang hari”, lanjut Pena.
“Oh itu, Iya benar Tiko kecelakaan malam hari. Tapi dia tidak apa-apa. Hanya saja sejak kejadian itu, dia menjadi aneh. Kemudian siang harinya dia tidak ada di kantor seperti biasanya. Saat itu ku berinisiati ingin mengunjunginya di rumahnya. Saat sampai di rumahnya, aku sudah di tunggu olehnya. Dia mengatakan semua hal tentang dirinya. Bahwa dia punya masalah dengan jantungnya. Kata dokter kecelakaan malam kemaren, membuat kondisi jantungnya semakin parah. Dia memaksakan dirinya dan menahan rasa sakitnya untuk mewujudkan mimpinya yaitu ingin membuat dirinya berguna bagi orang lain. Bahkan perusahaan ini adalah miliknya yang dia memberikannya kepada ku”, kata Rio.
“Jadi, dia meninggal bukan di saat kecelakaan dan Tiko yang kami temui saat itu masih manusia tetapi dia dalam sekarat”, lanjut Pena.
“Iya benar”, jawab Rio.
“Makasih penjelasannya”, kata Tini.
Tini dan Pena pulang dengan muka murung.
“Aku nyesal telah memarahi Tiko”, ucap Tini.
“Jika aku jadi Tiko, mungkin aku tidak akan menyerahkan harta bedanya kepada orang yang telah memarahinya di saat-saat terakhir dia bisa hidup”, lanjut Pena.
“Kamu apa-apaan sih dendem, gak terima aku juga dapat bagian dari rumah itu. Kamu pengen rumah itu jadi milikmu seutuhnya?”, marah Tini kepada Pena.
“Tuh kan, kamu itu cepat amat darah tingginya. Untung aku orangnya sabar. Bagaimana jika aku senasib dengan Tiko. Pasti kamu bakalan nyesal juga”, kata Pena.
“Aku salah ya, kalau gitu aku minta maaf”, lanjut Tini.
“Jika aku tahu dia bakalan died alias mati aku pasti bakalan jadi teman terbaiknya disaat terakhirnya”, kata Pena.
“Aku pasti bakalan melakukan hal yang sama seperti mu, apalagi jika ku tahu bakalan dapatt rumah darinya”, kata Tini.
“Dasar mata duitan”, keluh Pena.
“Biarin”, cuek Tini.

Tini dan Pena kemudian kembali ke rumah itu dan menjadikan rumah itu kosan untuk biaya kuliah mereka. Beberapa barang mewah yang tidak terpakai yaang ada di sana juga mereka jual untuk modal mereka usaha.

Tini dan Pena pun sukses berkat seseorang yang baik hati walaupun mereka tidak mengenalnya.

Tamat

“Jalan menuju ke depan itu banyak. Jika kita dapat menghindari jalan yang buruk maka jalan yang baik akan tersedia, meski sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal sekalipun”

“Teman itu sulit di cari tapi musuh sangat mudah untuk mendapatkannya. Teman dapat membantumu di saat kamu sulit tetapi musuh justru akan mempersulitmu. Jika ada sesorang yang di kucilkan janganlah kamu juga ikut mengucilkannya, jadilah teman dia karena itu jauh lebih baik”

Present @putratm

3 thoughts on “Rumah Yang Baik Hati & Tidak Sombong

Silahkan bicara Sobat ::

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s