Maling & Gadis ABG


Saat mendekati 17 agustusan Rusda disibukan dengan beraneka macam perlombaan dan kegiatan menyambut peringatan hari kemerdekaan.
Rusda mendapat tugas untuk menyiapkan makanan untuk para Pasukan Pengibar Bendera nanti malam, dia di suruh menginap di dekat lapangan upacara agar bisa segera menyiapkan makanan buat para Pasukan Pengibar Bendera.

Malam itu, saat Rusda ingin pergi dari rumah ke lapangan upacara, belum sempat jauh dia meninggalkan rumahnya dia melihat seseorang mencurigakan berada di depan pintu rumahnya dan bicara,”hai pintu !, terbuka kalau tidak bakalan ku tendang kamu”. Karena penasaran dia menghampirinya…

Rusda : Pak lagi ngapain… mau maling ya…
Maling : Kalau maling kamu mau apa?, kamu teriak, aku ajak ke pengulu.
Rusda : Kalau gak teriak?
Maling : Ya gak ku apa apain.
Rusda : Ya udah saya gak teriak.
Rusda pun Cuma bisa diam ngelihat Pak Maling mencoba masuk rumah nya. Lalu Rusda mencoba membuuat suasana tidak sunyi.
Rusda : Pak Maling, rumah saya gak ada apa-apanya lo. Cuma berisikan pakaian saya, emas, berlian dan uang 1 Miliar.
Maling : Waduh, Emang itu yang aku incar.
Rusda : Sialan kayaknya salah bicara nih aku. (grutu Rusda di dalam hati ).
Maling : Apanya sialan?
Rusda : oh gak pak, cuma sial saja nasib saya. Di tanggal 17 agustus nanti besok, orang orang pada senang ngerayain hari kemerdekaan Indonesia tapi saya malah ngerayain kerampokan yang saya alami. Kan gak lucu tuh pak.Padahal saya belum nikah, masih pelajar malahan jadi butuh amat tuh sama harta yang ada di rumah. Di tambah saya Cuma hidup sebatang kara, bisa jadi gak bakalan bisa bayar cicilan rumah, kredit HP, pacar belum di putusin semua, …
Maling : Stop aku gak peduli. (“Dasar anak muda jaman sekarang sukanya curhat melulu”, ucap Pak Maling di dalam hati)
Rusda : Baiklah, kalau gitu saya diam atau lebih baik saya pergi biar pak Maling khusyu bongkar pintunya.
Maling : Eh mau kemana jangan pergi, nanti kamu lapor polisi berbahaya bagi keselamatan diri ku.
Rusda : Dasar ABG Tua, sok-sokan pakai kalimat lebai segala lagi…(Bisik Rusda).
Maling : Ngatain bapak kamu… yang sopan donk. Orang nya ada di sini tau.
Rusda : Bapak dengar ya. Maaf pak, maaf, saya khilaf, gak akan mengulanginya lagi, saya mengaku salah.
Maling : Eh, udah-udah nak jangan begitu, jangan cium tangan bapaksegala, bapak jadi gak enak. Ya udah jangan lakuin gitu lagi ya.
Rusda : Iya pak, saya janji. Lain kali saya harus hati-hati lagi ngerumpinya dan jangan sampai kedengeran bapak.
Maling : Dasar, itu sih sama saja.
Lama dan lama pak Maling masih belum bisa membobol masuk ke rumah Rusda.
Rusda : Pak , saya cape nungguin bapak. Mendingan pakai kunci rumah saya saja dech.
Maling : Haaaaa, sialan bodoh ku makin kumat aja nih. Kenapa tidak dari tadi. Makasih.
Saat pak Maling ingin masuk ke rumah Rusda, Rusda memanggil pak Maling.
Rusda : Pak Maling, itu motor bapak ? (nunjuk motor butut)
Maling : Yang mana?
Rusda : Itu yang lagi di bawa orang.
Maling : Astaga, itu motorku yang lagi di curi. Kenapa kamu tidak teriak.
Rusda : Teriak apa?
Maling : Iya “maling” lah, emang apa lagi masa teriak,”naikan gaji buruh”. Gak lucukan, gajih bapak saja sebagai koruptor gak sampai 3 juta buruh malah minta naik gaji, walaupun bapak dapat 1 miliar dari hasil korupsi itupun harus di potong pajak sama KPK sebesar 1,5 miliar.
Rusda : Katanya gak boleh curhat. Itu malah curhat. Kalau gitu saya ikutan juga lah pak. Betul pak, saya juga, ngajar anak jalanan, jadi relawan untuk pelaksanaan upacara, pelajar yang harus bayar iruan sana sini, sama sekali saya tidak ada keinginan untuk minta di gaji sama pemerintah. Uang yang saya miliki pun Cuma dari hasil menjadi penjaga Warnet. Tapi saya gak ngeluh minta naikan gajih segala. Gaji sebesar 250 ribu saja saya sudah bersyukur. Setidaknya saya punya pekerjaan.
Maling : Ngomong-ngomong soal curhat, gimana nasib motor aku.
Rusda : Ya udah saya teriak,Maling-maling.

Seketika rumah Rusda di penuhi warga. Pak Maling pun di bawa dengan damai ke Polsek.

Rusda lalu melanjutkan pergi ke lapangan upacara. Saat dia tiba di sana, hari sudah pagi, dia langsung mendapat tugas menemanin pak Bupati sampai waktu Upacara tiba. Pak Bupati melihat-lihat galeri seni lukis pelajar.

Di lukisan Pertama:
Bupati : “Wow, lukisan ini sangat bagus. Gambar ikannya benar-benar hidup, seperti baru ditangkap dari lautan. ”
Rusda : “Maaf…, Pak! Itu bukan gambar ikan, tapi gambar buaya”. (“Yang lukis siapa sih nih, bisa ngelukis gak sih”, gerutu Rusda di dalam hati)

Di lukisan kedua:
Bupati : “Lukisan gajah ini mirip aslinya, benar-benar gagah. ”
Putria : “Maaf, jangan keras-keras Pak. Itu lukisan banteng”. (“Lukisan pada aneh semua sih, ini di bilang seni, seni sih seni tapi kok lebih mirif gambar acak-acakan, apa aku memang gak punya jiwa seni, jadi lukisan itu buat seniman saja atau bukan untuk umum”, gerutu Rusda lagi di dalam hati)

Di lukisan Ketiga :
Bupati itu kemudian tidak berkomentar apapun hingga beberapa menit kemudian.

Bupati : “Wah, luar biasa. Lukisan monyetnya begitu nyata anatominya. Mirip sekali dengan aslinya, tidak ada bedanya ”

Putria : “Maaf pak, Itu cermin!”.(“Masa bodo lah di marahin, kan aku jujur”,grutu Rusda di dalam hati)

Saat upacara berlangsung Pak Bupati Cuma ceramah singkat dan upacara pun selesai dengan cepat. Tamat

4 thoughts on “Maling & Gadis ABG

Silahkan bicara Sobat ::

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s