Setia Menunggumu


Baca Dengan Hati

Suatu ketika seorang gadis sebut saja namanya Ani menelpon pacarnya sebut saja namanya Budi pukul 23:00, “Hallo, kamu ada di mana?, aku sendirian di sini. Aku ingin di jemput oleh kamu”.

Budi menjawab, “Maaf, aku lagi di pesta teman. Jadi, kamu naik taksi saja”.

Ani  bicara lagi, “Tapi, aku inginnya kamu yang jemput aku”.

Lagi Budi menolak,”Please say, mengerti aku. Ini pesta teman baik aku. Tidak enak jika aku meninggalkan pesta ini”.

Ani berkata,”aku bisa nunggu kamu”.

Budi menjawab dengan kesal,”pesta ini selesai satu jam lagi. Lebih baik kamu minta jemput orang lain saja”.

Ani tetap memilih pacarnya yang jemput dia,”aku akan menanti mu di sini”.

Budi menjawab dengan sedikit membentak,”OK. Aku akan menjemputmu. Satu jam setelah ini”. Budi langsung mematikan telpon.

Tidak beberapa lama, Ani menelpon lagi. Lalu di matikan lagi oleh Budi. Terus berulang, karena sangat kesal terus diganggu, Budi menonaktifkan handphonenya. Budi meneruskan pestannya bersama dengan temannya. Satu jam berlalu. Pesta usai. Dia pun ingin pergi menjemput pacarnya. Dia aktifkan kembali handphonenya dan terdapat 3 pesan baru.

Dia baca pesan pertama, “jempat aku di jalan Kenanga ya, hati-hati di jalan dan jangan ngebut”.

Budi kaget,”apa, di jalan. Sial ku pikir di rumah temannya. Kamu gak henti -hentinya bikin aku kesal”.

Budi langsung bergegas ke luar, dia terkejut saat berada di luar hujan turun dengan derasnya. Kebetulan temannya ada di sampingnya, dia bertanya, “sejak kapan hujan deras ini?”.

Temannya menjawab,”sudah satu jam yang lalu, kamu pasti tidak sadar ya. Musik keras yang di pesta tadi yang membuat hujan di luar tidak ke dengaran”.

Tanpa pikir panjang, Budi bergegas pergi menggunakan mobilnya. Dia melajukan mobilnya dengan cepat. Setelah sampai di tempat pacarnya berada, dia tidak menemukannya di sana. Dia kemudian menelpon pacarnya, tetapi tidak ada jawaban. Lalu dia teringat pesan yang belum dia baca, kemudian dia coba baca 2 sms lainnya.

Sms ke dua pukul 23:15,”Say, kok di matiin sih handphonenya. Aku takut, dari tadi ada orang yang memperhatikan ku”.

Dengan sedikit was-was Budi kemudian membaca sms yang terakhir pukul 23:50,”Maaf say aku mungkin tidak ada di tempat, aku di kejar oleh orang yang dari tadi memperhatikan ku. Aku cuma ingin mengucapkan selamat ulang tahun untukmu langsung sebagai kejutan dari ku. Oleh karena itu aku tidak ingin di jemput orang lain. Jika aku masih belum kembali saat kamu tiba, kamu boleh pulang. Biar aku pulang jalan kaki saja. Aku takut kamu sakit gara-gara menunggu lama”.

Budi membalas smsnya, sambil menahan air matanya, “dasar bego, kenapa kamu tidak bilang kamu berada di jalan saat kita telponan tadi. Kamu pikir jarak dari sini ke rumah mu dekat apa?. Aku akan tetap menunggu mu di sini sampai kamu tiba”.

Hujan terus turun dengan derasnya, Budi tetap menunggu di jalan Kenanga, kemudian handphone berbunyi, telpon dari pacarnyanya.

Pukul 00:00, Dia tersenyum, kemudian murung karena yang dia dengar bukan suara pacarnya melainkan suara kakak dari pacarnya sebut saja Ina yang marah-marah dengannya,

“Kamu jadi kekasih bagaimana sih. Gara-gara kamu, adik ku tewas di bunuh penjahat. Aku sudah bilang, agar dia pulang saja. Tapi, dia tetap ngeyel ingin di jemput oleh kamu”.

Budi melepaskan handphonenya secara spontan, tertunduk dan mengeluakan air mata.

 

Setelah kejadian itu Ina sangat marah dengan Budi, karena Budi telah mengakibatkan Ani adiknya tewas. Di rumah Ina bersedih sudah tiga hari adiknya telah tiada. Hal itu membuat penyakit ginjalnya semakin parah. Dia kemudian di rawat. Dan terancam tidak akan bisa di selamatkan. Tetapi akhirnya dia mendapatkan donor ginjal dari sesorang. Seseorang yang baik hati itu lagi sekarat dan hidupnya tidak akan lama lagi. Seseorang itu berada di sampingnya dan hanya tehalang tirai kain putih. Ina kemudian menanyakan tentang orang yang bersedia memberikan ginjal kepadanya kepada dokter.

Dokter menjawab, “dia sekarat karena sudah tiga hari dia menunggu kekasihnya datang, tapi tidak kunjung tiba. Tanpa minum dan makan karena tempat dia menunggu sangat sepi”.

Ina kemudian termenung mengingat kembali adiknya. Dia melihat handphone adiknya, dia mengambilnya, terdapat sebuah pesan baru, pesan itu di kirim 3 hari yang lalu pukul  24:00, Pesan itu dari Budi pacar adiknya di kirim sebelum terakhir kali dia bicara dengan Budi,

 dia baca pesannya, “dasar bego, kenapa kamu tidak bilang kamu berada di jalan saat telponan tadi. Kamu pikir jarak dari sini ke rumah mu dekat apa?. Aku akan tetap menunggu mu di sini sampai kamu tiba”.

Dia terkejut seperti di sambar petir. Kebetulan petir menggelenggar saat itu sayangnya tidak mengenainya. Dia lalu menelpon Budi pacar adiknya, sebuah nada dering dia dengar,

dari balik tirai kain putih di sampingnya, dia terkejut saat melihatnya, orang yang telah mendonorkan ginjalnya kepadanya ada lah Budi pacar adiknya yang sudah tewas.

 

Ina menangis menyesal karena sempat marah dengan Budi. Dokter berkata, “anda mengenalnya?”. Ina menjawab,”iya dok, dia pacar adik saya”. Dokter itu kemudian berkata, “syukurlah kalau begitu!”. Ina sedikit heran, “emang kenapa dok?”. Dokter itu menjawab,”sebelum pacar adik mu menghembuskan napas terakhirnya dia sempat berwasiat. Dia minta agar orang yang telah mendapatkan donor darinya untuk melanjutkan perjuangannya menunggu kekasihnya di jalan kenanga”. Ani terkejut,”Tapi adik saya sudah meninggal dok?”. Dokter itu menjawab,” dia juga sempat mengancam, jika yang menerima donornya tidak bersedia, dia bakalan di hantui”. Ani kemudian berkata sedikit cemas,”kalau saya juga tewas kelaparan bagaimana dok!”. Dokter menjawab,”gak bakalan, pacar adik anda mempunyai harta berlimpah yang akan di gunakan untuk memberi makanan anda saat menunggu di jalan kenanga”. Ani kemudian benar-benar cemas, “kalau saya tidak mau bagaimana dok?”. Dokter menjawab,”sayang nya dia juga sudah bayar tentara untuk mengawasimu dan menjagamu serta memaksamu agar tetap bersedia melanjutkan perjuangaannya menunggu kekasihnya di jalan kenanga. Bahkan kamu sudah tanda tangani perjanjiannya. Secara hukum kamu harus melakukannya”.  Ani kemudian putus asa,”tenda, rumah atau apalah dok buat saya nunggu di jalan kenanga ada gak dok?”. Dokter menjawab,”dia tidak menyebut tentang itu, berarti anda harus menunggu seperti dia menunggu. Sampai kekasihnya datang, ya tentunya kena panas matahari dan hujan langsung”.

 

Akhirnya Ina menghabiskan hidupnya sampai nenek-nenek di jalan Kenanga dengan rasa sakit dan tidak bahagia sama sekali. Tamat

3 thoughts on “Setia Menunggumu

Silahkan bicara Sobat ::

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s