Gila Gila Sinting (Sahabat Jadi Cinta)


Namaku Lin, laki-laki biasanya manggil aku gadis cantik. Aku mempunyai teman bernama Amu, perempuan sering memanggilnya laki-laki tampan. Amu satu-satunya teman laki-laki aku yang nasibnya sama denganku. Bisa dikatakan kami adalah teman seperjuangan.

“Lin, baru pulang kerja?, mau ku antar dengan mobilku!”, sapa Amu kepadaku saat bertemu denganku di jalan.

Aku menerima tawaran Amu. Kami berdua berjalan bersama. Karna bagi kami berjalan bersama itu sama dengan mengendarai mobil, dan kalau berjalan sendiri itu sama dengan mengendarai motor.
Di dalam perjalanan, Amu bicara padaku,”Ku lihat klienmu memakai mobil semua, pasti dia orang-orang kaya semua!”.
“Ya iyalah, aku kan lebih hebat dari kamu. Aku tidak sepertimu yang hobinya jadi pengangguran!”, jawabku sambil menyerahkan gitar yang ku pakai ngamen di lampu merah kepada Amu.
“Kamu salah, aku sekarang sedang membangun sebuah perusahaan!”, sambung Amu sambil menerima gitarku dan membawakannya.

Aku penasaran ingin melihat perusahaan Amu. Amu lalu mengajakku ke tepi sungai dan menunjukan perusahaannya padaku,”lihat, itu perusahaanku baguskan!”.
Aku lalu mengamati sebuah bangunan kardus yang terletak di pinggir sungai dan di bawah jembatan, lalu bicara, “wah ternyata kamu benar-benar membangun perusahaan seperti yang kau katakan. Aku mau jadi karyawanmu!”.
“Gimana ya, ehm. Apa boleh buat, kamu diterima jadi karyawanku!”, jawab Amu.
Aku lalu bekerja di perusahaan Amu.

Suatu hari perusahaan Amu mendapat musibah. Aku segera memberitahukan kepada Amu yang sedang bekerja di perusahaan lain.
Amu lalu meminta izin kepada atasannya,”maaf pak mandor, saya izin dulu berhenti bekerja, teman saya datang ingin bicara!”.
Pak mandor bicara,”iya, kuli bangunan, aku izinkan kamu!”.

Amu menghampiriku, lalu aku bicara,“Amu, perusahaan kita mengalami masalah serius!”, terang aku.
“Wajar dalam berbisnis kadang gagal kadang menang”, jawab Amu dengan dinginnya.
“…dan kamu banyak kalahnya dan tidak pernah menang”, sambung aku.
“Kalau ingin menang terus, bermimpilah terus jangan harap mimpimu jadi kenyataan. Aku ingin bertemu dengan orang yang bertanggung jawab atas masalah yang terjadi terhadap perusahaan kita!”.

Aku lalu mempertemukan Amu dengan pimpinan Satpol PP yang telah menggusur rumah kardus milik Amu.

Amu lalu bicara kepada pimpinan Satpol PP itu,”maaf pak jika perusahaan kami menganggu kepentingan umum”.

Pimpinan Satpol PP tidak menghiraukan Amu. Amu lalu beranjak dari sana.

Amu menghampiri aku dan bicara,”pulanglah, aku mungkin akan menginap di hotel berbintang dan yang ada AC nya saja”.
“Kamu tidak pernah berubah selalu hidup berlebihan!”, sambung aku.

Malam itu Amu tidur di samping hotel, beralaskan tanah dengan beratapkan langit yang di penuhi bintang dan juga suasana dinginnya malam yang dia sebut AC alami.

Beberapa hari kemudian Amu datang ke komplek perumahan yang terletak di bawah jembatan dan di samping sungai di mana semua rumah di sana terbuat dari kardus dan salah satunya merupakan tempatku tinggal. Dia datang pagi-pagi sekali dan berkata,”Hei Lin, kamu ingin melihat perusahaan baruku. Kali ini aku membangunnya lebih megah dari sebelumnya dan tinggi menjulang ke langit!”, pamer Amu kepadaku.
“Baiklah”, jawabku.

Aku lalu meninggalkan perumahan kumuhku untuk pergi melihat perusahaan Amu.

Amu membawaku di pinggiran rel kereta api dan menunjuk arah ke atas sambil bicara,”Itu adalah tempat kerja milik kita yang baru, bagus kan?”.
Sambil mengamati sebuah rumah kayu yang terletak di atas pohon yang di tunjukan oleh Amu, aku bicara,”bagus juga”.

Amu lalu melakukan pekerjaannya. Menulis cerita yang akan diajukan ke penerbit untuk diterbitkan sebagai buku novel. Saat Amu lagi bekerja, aku datang dan bicara padanya,”Sibuk sekali kamu, Amu. Hentikan pekerjaanmu sejenak, aku bawakan makanan untuk mu, ini makanan dari restoran mewah!”.

Amu lalu memakan makanan yang ku bawakan dari tempat sampah di sebuah restoran mewah yang sebelumnya sudah ku bawa ke lab gratis milik pemda untuk menguji apakah makanan yang ku bawa layak dimakan atau tidak dan hasil uji menyatakan makanan yang ku bawa masih layak dimakan. Aku tidak ingin mencelakakan Amu.

Terlihat olehku, Amu memakan habis makanan yang ku bawakan. Amu terlihat sangat senang dan kemudian dia berkata,”makanannya enak sekali tidak seperti makanan yang ku makan di restoran biasanya, makasih ya!”.
Aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.

Setelah selesai makan, Amu bicara,”nanti kamu temanin aku ya, bentar lagi proyek yang ku kerjakan selesai. Lalu kita selanjutnya akan pergi untuk memenangkan tender!”.

Sebenarnya yang dimaksud Amu dengan proyek adalah novelnya dan memenangkan tender adalah mengajukan ke penerbit.

Ke esokan harinya, lagi-lagi aku berlari mendatangi Amu yang sedang bekerja diperusahaan lain. Amu yang melihatku segera menghampiriku,”Ada apa lagi?, apakah perusahaan kita kena gusur lagi oleh pemerintah!”, tanya Amu.
“Tidak, tapi perusahaan kita di bawa kabur oleh tikus!”, jelasku.
“Oh, koruptor itu cepat atau lambat akan ada di perusahaan kita dan itu harus kita hadapi”, lanjut Amu dengan tenang seperti biasanya.

Aku dan Amu lalu pergi menuju perusahaan kami setelah Amu di izinkan oleh atasannya. Setibanya di sana, Amu kaget,”mana perusahaan kita?, kok gak ada!”, kata Amu sambil menunjuk sebuah pohon yang sudah di tebang.
“Kan sudah ku bilang perusahaan kita di bawa kabur Tikus!”, terang aku.
“Aku ingin bicara dengan koruptor itu?”, lanjut Amu.

Aku lalu mempertemukan Amu kepada pimpinan proyek yang sedang berlangsung di tempat itu. Amu lalu bicara,”kenapa pohonnya di tebang pak?”.
“Kami ingin melakukan perluasan area rel kereta api, jadi pohon itu kami tebang!”, terang pimpinan proyek.

Amu lalu menghampiriku,”Lin, selamatkan berkas-berkas perusahaan kita yang tersisa!”.
Aku segera mengumpulkan lembaran-lembaran tulisan Amu yang masih bisa di selamatkan. Karena itulah yang dimaksud berkas-berkas perusahaan oleh Amu. Kemudian menyerahkannya kepada Amu. Amu lalu bicara,”Aku mungkin akan kerja lembur, kamu silahkan pulang!”.

Hari itu hingga malam Amu menyelesaikan tulisannya. Keesokan harinya Aku dan Amu pergi ke kantor penerbit. Di sana tulisan Amu di tolak,”Maaf dek, tulisan tangan tidak kami terima, kalian harus mengetiknya dulu”, jelas karyawan di sana.

Aku tidak sanggup jika memori kesedihan bertambah lagi pada Amu, aku berusaha mencari cara untuk menolong Amu dan akhirnya aku mendapatkan ide, “Biar aku yang tangani”, kataku pada Amu.
Amu lalu berkata,”Baiklah Lin, semuanya ku serahkan padamu, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi”.

Aku lalu membawa tulisan Amu ke kampus. Di sana aku meminta tolong kepada seorang mahasiswa yang ku temui,”maaf kak, bisa minta bantuannya untuk ketikan tulisan ini lewat komputer?”.
Kakak mahasiswa itu menjawab,”maaf dik cantik, kakak lagi sibuk!”, lalu kakak mahasiswa itu pergi meninggalkan aku untuk melanjutkan demo rusuhnya dengan polisi.

Aku terpaksa pakai cara B, menulis ulang tulisan Amu dengan tulisan yang ku buat semirip mungkin dengan tulisan komputer. Berhari-hari aku melakukannya dan satu minggu kemudian akhirnya selesai dengan sempurna. Aku menyerahkannya kepada Amu. Amu dan aku lalu membawa tulisan itu ke penerbit lagi. Kali ini tulisan kami di terima. Amu sangat senang dan memujiku,”kita memenangkan tender Lin, terimakasih banyak atas bantuannya selama ini atas perusahaan!”, kata Amu padaku.

Buku yang diterbitkan dari tulisan Amu mendapat penjualan yang banyak sehingga dapat mengubah kehidupan kami menjadi lebih baik.

Di puncak kesuksesan Amu, Amu mendapatkan seorang kekasih yang cantik dan manis dan yang paling menyedihkan kekasihnya bukanlah diriku. Harapku hanyalah harapan. Aku sadar dan yang hanya bisa ku lakukan cuma menangis. Berharap Amu memberikan perhatiannya padaku. Harapanku dikabulkan, Amu bertanya,”kenapa kamu menangis?”. Aku bilang,”kena debu”, dengan harapan Amu mengerti. Lalu Amu bilang,”pastii debu sangat menyukaimu, karna setiap hari aku selalu melihatmu menangis!”. Itu adalah kata-kata dari Amu yang paling menggetarkan hatiku. Hingga hatiku retak karena terlalu kuatnya getaran tersebut.

TAMAT

2 thoughts on “Gila Gila Sinting (Sahabat Jadi Cinta)

Silahkan bicara Sobat ::

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s