Di Balik Soal Di Mana Seribunya


Jika kalian pernah menemukan soal matematika yang menanyakan di mana seribunya. Maka inilah kisah di balik soal tersebut, yang tidak banyak orang tahu.

“Aku hutang uang 50000 ke Ani dan 50000 ke Ina jadi 100000. Kubelikan sepatu seharga 97000. Sisa 3000 dikembalikan 1000 ke Ani, 1000 ke Ina, dan 1000 di kantongi. Sisa hutang ke Ani 49000 + sisa hutang ke Ina 49000 + 1000 sisa uang di kantong = semuanya 99000. Di mana 1000 nya?” ucap Rio padaku.

“Kepada siapa saja kamu berikan teka-teki ke mana 1000 nya itu Rio?” tanyaku saat mendengarnya.

“Kamu dan Andi. Kau tahu, Andi kayaknya stres cari jawaban teka-teki itu.” jawabnya sambil tertawa.

“Andi, kelas 7B? Dia kan suka bolos pelajaran matematika. Tentu dia tidak bisa tahu jawabannya?” sambungku.

“Emang kamu tahu?” tantang Rio.

Ku tanggapi, “Itu materi Aritmatika Sosial kelas 7 SMP, Rio. Saat Guru menjelaskannya kamu tidurkan.” ejekku.
Rio terlihat malu. Aku kembali bicara, “Begini, sisa hutang 98000. Jika kamu tambahkan 1000 sama saja kamu menambah hutang. Artinya itu rugi dalam Aritmatika Sosial. Seharusnya kamu kurangkan 1000 dikantongmu untuk membayar hutang dengan uang yang ada. Jadi sisa hutangmu 97000 pas dengan yang digunakan buat beli sepatu.”

Esok harinya di hari yang tenang. Tiba-tiba,
“Aaaaaaa.” Rio berteriak. Aku langsung bertanya dan dia menjawab, “Tadi, Andi menghampiriku dalam mimpi. Dia bilang, aku ingin menjawab pertanyaanmu mari ke alamku. Lalu dia menusukan pisau ke jantungku!”

Meskipun aku cemas karena baru tahu kutukan ‘1000 nya ke mana’ saat malam tadi. Aku menghibur Rio, “Andikan sudah mati bunuh diri malam tadi. Mana mungkin bisa membunuhmu dengan pisau.”

“Huh, kamu benar juga.” jawab Rio tenang.
Tiba-tiba Rio kejang-kejang dan memegangi jantungnya. Suasana kelas panik seketika.

Beberapa jam kemudian. Semua badanku lemas dan air mataku tidak berhenti mengalir. Guru menghampiriku, “Bukan salahmu, Mia. Rio meninggal wajar karena serangan jantung. Berhentilah menangis.”

Aku memberikan sebuah buku catatan matematika ke guru, “Salahku bu, tidak memberitahu jawabannya ke Andi. Aku menyesal baru tahu tentang kutukan 1000 nya ke mana dari situs internet malam tadi.”

Guru membaca catatanku yang berisikan salinan tulisan di situs internet.

Catatan Matimatikita.
Aku yang sudah duduk di bangku SMP menderita gagal ginjal. Akhir-akhir ini, aku sudah jarang melakukan cuci darah. Orang tuaku lebih fokus menyayangi dan memperhatikan adikku yang sehat dari padaku yang selalu menghabiskan uang saja.

Aku iri. Terlintas pikiran untuk balas dendam saat mengenal materi Aritmatika Sosial. Di sisa kehidupanku. Aku buat teka-teki yang kunamakan 1000 nya ke mana. Adikku yang masih SD cuma tahunya menambah dan mengurang. Dia bingung, stres hingga keinginanku terwujud. Dia putus asa tidak menemukan jawabannya dan membenturkan kepalanya ke dinding hingga tewas.

Adik, aku akan menyusulmu. Mati Mati Kita, dan buat orang tua kita menyesal tidak mempunyai seorang anakpun karena pilih kasihnya.

Aku bisa melihat guru juga gemetar. Suara aneh terdengar. “Mati mati kita” Aku berteriak, “Kalian saja mati, jangan bawa-bawa kita!”

Aku bakar semua buku Rio, yang ku yakin tulisan teka-teki 1000 nya ke mana pasti tertulis di salah satu bukunya. Berharap kutukan itu menghilang.

Beberapa hari kemudian, aku terkejut melihat teka-teki 1000 nya ke mana tersebar di media sosial.

2 thoughts on “Di Balik Soal Di Mana Seribunya

Silahkan bicara Sobat ::

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s